3/17/2013

Intermezzo 3 (Kesulitan yang Mendatangkan Berkat)


Mengucap syukur dan berbahagia di waktu - waktu keberhasilan kita, atau atas keberuntungan yang kita alami adalah hal yang biasa...tapi bisakah kita terus mengucap syukur dan berbahagia di dalam masa "sulit" yang kita hadapi ?

Saya pernah baca sebuah cerita mengenai seorang kakek tua bijaksana yang memiliki seekor kuda yang begitu cantik...begitu indahnya kuda tersebut sampai - sampai raja di negeri tersebut sedemikian menyukainya.

Banyak orang sudah menasihati kakek tersebut agar menjual saja kuda tersebut kepada sang raja, mengingat harga yang ditawarkan oleh raja untuk membelinya bukanlah jumlah yang sedikit...bahkan sampai suatu kesempatan sang raja menawar kuda tersebut dengan menukarkan setengah dari kerajaannya untuk diberikan kepada sang kakek, namun sang kakek tetap menolak tawaran tersebut. Suatu hari kuda tersebut tiba - tiba menghilang, dan para tetangganya pun banyak yang berkata kepada sang kakek," Tuh kan betul aja, mending dulu dijual ke raja...sekarang udah ilang, kan rugi banget. Ga dengerin masukan kita - kita sih, jadi bernasib sial kan."

Namun sang kakek dengan tenangnya menanggapi demikian,"Saya tidak rugi apa - apa koq, saya tidak sedang sial, yang saya tahu saat ini adalah kuda tersebut tidak ada di kandangnya." Mendengar hal tersebut, banyak orang yang menganggap kakek tua itu sudah menjadi gila, mungkin karena depresi kehilangan kudanya dan tidak mau mengakui bahwa ia mengalami kerugian.

Kira - kira dua minggu setelah kuda tersebut menghilang, tiba - tiba kuda tersebut kembali muncul ke rumah sang kakek dengan membawa 12 ekor kuda liar lainnya. Melihat hal itu, para tetangganya pun berkomentar, "Ternyata si kakek betul juga yah, dia tidak sedang sial. Lihat saja sekarang dia jadi memiliki 13 ekor kuda. Sungguh kakek yang beruntung." Mendengar hal itu, sang kakek kembali menanggapi, "Saya tidak sedang beruntung koq, yang saya tahu sekarang ini kuda saya sudah kembali dan ada 12 ekor kuda liar yang mengikutinya." Mendengar hal itu, kembali para tetangganya menganggap kakek itu sudah gila, karena tidak bisa melihat suatu keadaan sebagai keberuntungan maupun kesialan.

Kira - kira 1 bulan setelah kembalinya kuda itu, saat cucu dari kakek tersebut sedang berusaha menjinakkan kuda liar yang didapat sang kakek, tiba - tiba saja ada kuda liar yang benar - benar sulit dikendalikan sehingga akhirnya sang cucu terjatuh dari kuda tersebut dan kakinya patah. Melihat keadaan tersebut, kembali para tetangganya berkomentar, "Wah ternyata si kakek itu punya kemampuan melihat ke masa depan, sampai - sampai dia tahu bahwa kedatangan 12 kuda liar itu bukanlah membawa keberuntungan bagi keluarganya, namun kesialan...lihat saja sekarang cucu kesayangannya patah kakinya. Sungguh hebat si kakek, namun sungguh sial juga."

Mendengar tanggapan itu, si kakek akhirnya tidak tahan lagi dan berkomentar, "Kalian ini kerasukan setan apa sih, dikit - dikit bilang beruntung, bilang sial, bilang beruntung, bilang sial...apa - apaan sih. Kan saya sudah bilang berkali - kali, saya ini tidak beruntung ataupun sial, yang saya tahu faktanya adalah saat ini kaki cucu saya patah. Itu tidak berarti saya sial."

Melihat tanggapan sang kakek yang sebegitunya, kembali para tetangganya menggosipkan sang kakek sebagai orang yang benar - benar gila, karena tidak bisa membedakan kesialan ataupun keberuntungan. Tepat seminggu setelah kejadian kaki cucunya patah, tiba - tiba raja di negeri tersebut mengumumkan perang dengan salah satu negeri tetangga...dan untuk memenuhi kebutuhan tentara yang ambil bagian dalam perang, maka raja memberlakukan wajib militer bagi setiap warganya yang masih muda.

Mendengar pengumuman tersebut, para tetangga sang kakek kembali berkata kepada sang kakek, "Ternyata kakek sungguh beruntung, karena kaki cucunya patah, maka dia tidak diikutsertakan dalam wajib militer." Kali ini sang kakek sudah tidak berkomentar apa-apa...speechless..karena sungguh sang kakek dengan sifat bijaksananya tidak pernah menilai suatu peristiwa sebagai keberuntungan atau kesialan...dia baru akan dapat menilai setelah segala sesuatunya berlalu dan kehidupannya telah berakhir.

Well teman...pernahkah kita mencoba berpikir sebagaimana si kakek yang bijak ini berpikir? Mungkin kebanyakan dari kita memiliki hobi sama seperti si tetangga sang kakek...dikit - dikit menilai lagi untung atau lagi apes...padahal sesungguhnya itu merupakan penilaian yang terlalu prematur.

Mungkin kebanyakan dari kita mengeluh mengenai keadaan Jakarta yang semakin macet, mungkin kita sering menganggap diri kita sedang sial kalo kita sampai terjebak kemacetan. Tapi kalau kita coba berbicara dengan mereka yang selamat dari bencana teroris Twin Tower 9/11 di Amerika, dimana mereka selamat karena terjebak macet sehingga mereka tidak dapat sampai di kantor tepat pada waktunya, maka kemungkinan besar mereka akan merasa sangat beruntung karena telah terjebak macet yang mengakibatkan mereka terlambat datang ke kantor.

Memang tidak mudah untuk mengucap syukur dalam berbagai keadaan, tapi satu hal yang pasti...bila kita terus dapat mengucap syukur akan segala keadaan yang kita alami, pastilah hidup kita menjadi lebih indah.

Lebih baik mengucap syukur daripada mengutuki keadaan.