Mengucap syukur dan berbahagia di waktu - waktu keberhasilan
kita, atau atas keberuntungan yang kita alami adalah hal yang biasa...tapi
bisakah kita terus mengucap syukur dan berbahagia di dalam masa
"sulit" yang kita hadapi ?
Saya pernah baca sebuah cerita mengenai seorang kakek tua
bijaksana yang memiliki seekor kuda yang begitu cantik...begitu indahnya kuda
tersebut sampai - sampai raja di negeri tersebut sedemikian menyukainya.
Banyak orang sudah menasihati kakek tersebut agar menjual
saja kuda tersebut kepada sang raja, mengingat harga yang ditawarkan oleh raja
untuk membelinya bukanlah jumlah yang sedikit...bahkan sampai suatu kesempatan
sang raja menawar kuda tersebut dengan menukarkan setengah dari kerajaannya
untuk diberikan kepada sang kakek, namun sang kakek tetap menolak tawaran
tersebut. Suatu hari kuda tersebut tiba - tiba menghilang, dan para
tetangganya pun banyak yang berkata kepada sang kakek," Tuh kan betul aja,
mending dulu dijual ke raja...sekarang udah ilang, kan rugi banget. Ga dengerin
masukan kita - kita sih, jadi bernasib sial kan."
Namun sang kakek dengan tenangnya menanggapi
demikian,"Saya tidak rugi apa - apa koq, saya tidak sedang sial, yang saya
tahu saat ini adalah kuda tersebut tidak ada di kandangnya." Mendengar hal
tersebut, banyak orang yang menganggap kakek tua itu sudah menjadi gila,
mungkin karena depresi kehilangan kudanya dan tidak mau mengakui bahwa ia
mengalami kerugian.
Kira - kira dua minggu setelah kuda tersebut menghilang,
tiba - tiba kuda tersebut kembali muncul ke rumah sang kakek dengan membawa 12
ekor kuda liar lainnya. Melihat hal itu, para tetangganya pun
berkomentar, "Ternyata si kakek betul juga yah, dia tidak sedang sial.
Lihat saja sekarang dia jadi memiliki 13 ekor kuda. Sungguh kakek yang
beruntung." Mendengar hal itu, sang kakek kembali
menanggapi, "Saya tidak sedang beruntung koq, yang saya tahu sekarang ini
kuda saya sudah kembali dan ada 12 ekor kuda liar yang mengikutinya."
Mendengar hal itu, kembali para tetangganya menganggap kakek itu sudah gila,
karena tidak bisa melihat suatu keadaan sebagai keberuntungan maupun kesialan.
Kira - kira 1 bulan setelah kembalinya kuda itu, saat cucu
dari kakek tersebut sedang berusaha menjinakkan kuda liar yang didapat sang
kakek, tiba - tiba saja ada kuda liar yang benar - benar sulit dikendalikan
sehingga akhirnya sang cucu terjatuh dari kuda tersebut dan kakinya patah.
Melihat keadaan tersebut, kembali para tetangganya berkomentar, "Wah
ternyata si kakek itu punya kemampuan melihat ke masa depan, sampai - sampai
dia tahu bahwa kedatangan 12 kuda liar itu bukanlah membawa keberuntungan bagi
keluarganya, namun kesialan...lihat saja sekarang cucu kesayangannya patah
kakinya. Sungguh hebat si kakek, namun sungguh sial juga."
Mendengar tanggapan itu, si kakek akhirnya tidak tahan lagi
dan berkomentar, "Kalian ini kerasukan setan apa sih, dikit - dikit bilang
beruntung, bilang sial, bilang beruntung, bilang sial...apa - apaan sih. Kan
saya sudah bilang berkali - kali, saya ini tidak beruntung ataupun sial, yang
saya tahu faktanya adalah saat ini kaki cucu saya patah. Itu tidak berarti saya
sial."
Melihat tanggapan sang kakek yang sebegitunya, kembali para
tetangganya menggosipkan sang kakek sebagai orang yang benar - benar gila,
karena tidak bisa membedakan kesialan ataupun keberuntungan. Tepat seminggu setelah kejadian kaki cucunya patah,
tiba - tiba raja di negeri tersebut mengumumkan perang dengan salah satu negeri
tetangga...dan untuk memenuhi kebutuhan tentara yang ambil bagian dalam perang,
maka raja memberlakukan wajib militer bagi setiap warganya yang masih muda.
Mendengar pengumuman tersebut, para tetangga sang kakek
kembali berkata kepada sang kakek, "Ternyata kakek sungguh beruntung,
karena kaki cucunya patah, maka dia tidak diikutsertakan dalam wajib
militer." Kali ini sang kakek sudah tidak berkomentar
apa-apa...speechless..karena sungguh sang kakek dengan sifat bijaksananya tidak
pernah menilai suatu peristiwa sebagai keberuntungan atau kesialan...dia baru
akan dapat menilai setelah segala sesuatunya berlalu dan kehidupannya telah
berakhir.
Well teman...pernahkah kita mencoba berpikir sebagaimana si
kakek yang bijak ini berpikir? Mungkin kebanyakan dari kita memiliki hobi sama seperti si tetangga sang
kakek...dikit - dikit menilai lagi untung atau lagi apes...padahal sesungguhnya
itu merupakan penilaian yang terlalu prematur.
Mungkin kebanyakan dari kita mengeluh mengenai keadaan Jakarta yang semakin macet, mungkin kita sering menganggap diri kita sedang sial kalo kita sampai terjebak kemacetan. Tapi kalau kita coba berbicara dengan mereka yang selamat dari bencana teroris Twin Tower 9/11 di Amerika, dimana mereka selamat karena terjebak macet sehingga mereka tidak dapat sampai di kantor tepat pada waktunya, maka kemungkinan besar mereka akan merasa sangat beruntung karena telah terjebak macet yang mengakibatkan mereka terlambat datang ke kantor.
Memang tidak mudah untuk mengucap syukur dalam berbagai keadaan, tapi satu hal yang pasti...bila kita terus dapat mengucap syukur akan segala keadaan yang kita alami, pastilah hidup kita menjadi lebih indah.
Lebih baik mengucap syukur daripada mengutuki keadaan.