4/17/2013

Dukungan Keluarga Itu Penting


My Life

Lahir sebagai anak kedua dalam keluargaku yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan kakak laki-laki dengan perbedaan umur yang cukup jauh, 6 tahun. Aku dilahirkan ketika ibuku telah berusia 39 tahun dan ayahku 48 tahun. Perbedaan usia yang sangat jauh itu menyebabkan hubunganku dengan keluargaku pun sama jauhnya. Didikan dari orang tuaku yang kurang memberi kasih sayang dan perhatian secara verbal menyebabkan aku menjadi seorang anak yang haus akan kasih sayang orang tua terutama dari ayahku. Sebuah pelukan atau ciuman tak pernah kuterima dari ayahku, bahkan untuk mengadakan percakapan di rumah pun merupakan hal yang jarang sekali terjadi, mungkin tak pernah.

Yah, Tuhan sangat baik, Ia mengetahui kerinduan hatiku dan memberikan kepadaku seorang suami yang memiliki sosok seorang ayah yang selama ini kuimpikan.

Masa berpacaran kami jalani selama lebih dari 4 tahun, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Dalam 4 tahun itu, 6 bulan kami habiskan bersama-sama, namun 2,5 tahun berikutnya kami menjalani hubungan jarak jauh (long distance relationship) karena perusahaan tempat kami bekerja menugaskan suamiku di Medan, sedangkan aku di Jakarta. Sekembali suamiku ke Jakarta, timbul niat kami untuk menikah. Di saat yang sama penyakit antah berantah ini sudah mulai menggerogoti tubuhku, namun tak pernah kuungkapkan hal itu kepadanya.

Singkat cerita, kami pun menikah di bulan November 2009, ketika kondisi tubuhku sudah cukup menurun. Rasa letih berlebihan (fatigue) mulai menderaku, bahkan kala persiapan pernikahan kami, aku sudah kehilangan tenaga dan semangat untuk menikah. Tapi Tuhan sungguh baik, dengan persiapan 1,5 bulan, akhirnya pernikahan kami yang sederhana dilangsungkan di sebuah gereja disertai acara resepsi di tempat yang sama yang didatangi oleh keluarga dan kerabat dekat kami.

Di akhir Desember 2009, aku tak sanggup lagi bekerja karena semua gangguan yang aku alami ditambah dengan rasa pusing yang menyerang setiap kali melihat monitor komputer. Padahal hampir seluruh waktu kerjaku dihabiskan di depan komputer. Baru kuungkap kepada suamiku apa yang terjadi dengan tubuhku. Dengan sabar, suamiku menemaniku dalam perjalanan mencari penyakitku ini, walau aku sudah tidak sanggup menjalankan peran sebagai istri.

Kala vonis MS terlontar 4 bulan kemudian, aku sangat terpukul apalagi mendengar dokter mengatakan bahwa MS belum bisa disembuhkan. Dalam suatu perjalanan di malam hari, ketika aku hanya berdua di mobil dengan suamiku, aku meminta maaf padanya karena merahasiakan penyakitku selama ini. Seharusnya ia bisa menikah dengan wanita lain yang lebih baik dariku. Aku sungguh merasa bersalah. Namun, ia hanya memegang tanganku dan berkata bahwa dia akan selalu menemani dan mencintaiku apapun yang terjadi. Tanpa dikomando lagi, air mataku deras keluar membasahi mukaku.

Sekarang sudah 3,5 tahun pernikahan kami berjalan, ada kala sakitku membaik dan ada waktunya ia tak bisa diajak kompromi lagi. Perasaanku dan suamiku tentunya tidak selalu berjalan mulus, pertengkaran, perselisihan disertai air mata acap kali terjadi. Namun, Tuhan sedang membangun karakter kami berdua dan menjadikan kami pasangan yang lebih baik lagi daripada sebelumnya.

Komunikasi yang Baik

MS adalah penyakit yang unik, banyak dari gejalanya yang tidak nampak oleh orang lain, kecuali gangguan berjalan yang sering dialami. Bagi orang lain, seorang penderita MS kelihatan sehat-sehat saja. Aku pun mengalaminya, menghabiskan waktu lebih lama di toilet karena air kencing yang susah keluar. Risih rasanya dengan orang lain yang antre menunggu giliran di toilet. Juga ketika rasa ingin buang air kecil itu datang, tak jarang aku harus menyelak antrian. Kalau tidak, celanaku bisa basah. Orang lain tak akan mengerti kondisi seorang penderita MS, bila kita tidak mengemukakannya.

Perlu waktu yang tidak sebentar juga bagi suamiku untuk dapat memahami penyakitku, apa yang kualami, apa yang kurasakan, apa yang kuperlukan dan apa yang harus dilakukannya untuk bisa membantuku. Kini aku selalu menceritakan pengalamanku melakukan kegiatan sehari-hari, perasaanku, ketidakberdayaanku, keperluanku agar ia mengerti lebih lagi dan tahu apa yang kualami dengan tantangan sekecil apapun.

Jangan Sungkan Meminta Bantuan Orang Lain

Aku tidak dapat lagi berlagak menjadi orang yang kuat dan mandiri, peran yang selama ini kujalankan. Pada awalnya sulit bagiku untuk meminta bantuan orang lain, bahkan untuk berjalan dengan bantuan walker saja rasanya malu sekali. Tapi, aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri lagi. Saat ini aku memang membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya, aku butuh bantuan orang lain untuk memakaikan sepatu, menyiapkan peralatan untuk mandi, membawakan makanan untukku, bahkan suamiku tak jarang membantu memakaikan pakaianku selesai mandi.

Memang rasanya tidak enak membebani orang lain, tapi perlu disadari juga bahwa hal itu merupakan kesombongan yang terselubung. Merasa diri kita bisa melakukan semuanya sendiri, bukankah itu suatu kesombongan?

Yah, Tuhan tidak suka dengan orang yang sombong, tetapi Dia suka dengan orang yang selalu mengandalkan-Nya dalam segala hal. Jadi masih perlukah kita malu meminta bantuan orang lain?

Bersyukurlah atas keluarga yang diberikan Tuhan kepada kita, mereka memang tidak sempurna, tapi Tuhan tidak pernah salah menempatkan kita dimana kita memang dibutuhkan untuk berada disitu.

No comments:

Post a Comment

Kepada para pembaca diharapkan tidak sungkan dalam membagikan pengalaman, masukan maupun kritik dan saran. Terima kasih.