Setelah aku terdiagnosa penyakit yang antah berantah ini,
namun kuyakin pasti ada obatnya hanya belum diketahui saja hingga saat ini,
MS, perjalanan hidupku yang baru pun dimulai. Tak lama setelah aku membuka
lembaran yang baru dengan kekasihku, menikah, ternyata ada kado pernikahan yang
tak pernah kuduga akan kuterima. Kita harus tetap percaya ada kuasa yang
lebih besar yang menentukan hidup kita, yaitu Tuhan.
Tak pernah kuiimpikan menjalani hidup dengan penyakit ini,
tapi itulah yang harus kujalani saat ini. Mungkin banyak hal dalam hidup kita yang
terjadi di luar kehendak kita dan tidak pernah terbersit dalam pikiran kita,
misalnya dalam hal pekerjaan, dalam menemukan pasangan hidup, dalam menderita
sakit penyakit yang tak kunjung sembuh, dan lain-lain. Kita tak pernah tahu
kemana arah hidup kita akan menuju, bahkan kita tak akan pernah tahu apa yang akan
terjadi di kemudian hari. Kita hanya bisa percaya hidup kita ada dalam tangan
Tuhan dan Tuhan selalu punya rencana yang indah dalam hidup kita. Setelah
perjalanan itu berakhir, kita dapat melihat ke belakang dan tersenyum.
Ambil saja pengalamanku, sejak kecil, aku seorang yang introvert dan sangat pemalu. Dari TK
hingga SMP, sekolahku hanya berjarak kurang dari 1 km sehingga cukup ditempuh dengan
berjalan kaki. Namun petualanganku dimulai ketika memasuki SMA, karena sejak saat itu semuanya berjalan di luar rencanaku. Berkat usulan kepala sekolah
SMP-ku, aku berhasil masuk ke SMU Negeri yang terbilang unggulan saat itu, SMUN
8. Tetapi, sebenarnya aku berencana ingin masuk SMAN 78 yang lokasinya lebih
dekat dengan rumahku dan sudah kuketahui lokasinya karena kakakku juga pernah
bersekolah disana. Kini aku harus masuk ke sekolah yang antah berantah tidak tahu
dimana, belum lagi harus menghadapi kejengkelan papaku karena semua berjalan tidak
sesuai dengan rencana kami.
Sekarang aku tahu kenapa semua itu harus terjadi, Tuhan
sedang mempersiapkanku untuk masa depanku. Karena letak SMUN 8 yang sangat jauh
dari rumahku di Slipi, aku harus naik kendaraan umum. Bis yang kutumpangi selalu
penuh dengan penumpang, tanpa AC, dan merasakan pengalaman bertemu dengan beraneka
ragam orang yang tak pernah kubayangkan ada sebelumnya. Bersekolah di sekolah
negeri juga adalah pengalaman yang sepenuhnya baru untukku, dari TK hingga SMP
aku bersekolah di sekolah swasta Kristen. Kini aku memiliki teman dari berbagai
agama dan kepercayaan juga dengan segala macam keunikannya. Ya itulah cara
Tuhan mengajarku menjadi seorang yang mandiri dan bisa bergaul dengan berbagai
macam orang. Karena selanjutnya aku akan kuliah di tempat yang lebih jauh lagi dan
menghadapi masa perkuliahan yang lebih berat.
Masa perkuliahan selama 4 tahun di Depok harus kujalani
dengan pulang pergi kampus-rumah. Kondisi keuangan keluargaku tergolong
pas-pasan jadi aku tidak mampu untuk nge-kost. Perjalanan Slipi-Depok setiap
hari menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Dari pengalaman yang menakutkan
hingga menyenangkan semuanya kualami. Bertemu dengan pencopet, bertemu orang-orang
aneh, menghadapi tawuran di jalanan, bis yang bocor kala hujan, hingga bertemu
dengan calon suamiku di tempat yang tidak pernah kubayangkan, di bis yang
selalu setia mengantarku kuliah.
Masa-masa kuliah di awal semester dapat kujalani dengan
relatif mudah, meski ternyata jurusan yang kupilih tidak sesuai dengan
harapanku. Teknik kimia di UI agak berbeda dengan universitas lainnya karena di
UI jurusan tsb lebih spesifik mempelajari pengolahan gas dan minyak bumi.
Memasuki semester akhir, perjuangan menyelesaikan skripsi penuh dengan
pergumulan emosi dan air mata. Namun, semuanya itu terbayar ketika aku berhasil
keluar dari ruang sidang skripsi dengan nilai yang sangat memuaskan. Rasanya menyenangkan
sekali bisa melewati suatu masa yang begitu berat dan berhasil mendapatkan
hasil yang terbaik.
Setelah selesai kuliah, mencari pekerjaan menjadi kegiatanku
sehari-hari, lowongan di surat kabar ataupun internet kutelusuri. Namun, entah mengapa
aku tidak terlalu tertarik dengan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studiku, mungkin
karena penempatannya kebanyakan di luar kota dan tempatnya terpencil, sementara
orang tuaku sudah tua dan perlu seseorang yang bisa menjaga mereka. Jadi hanya
lowongan dalam kota saja yang kulihat. Setelah beberapa kali mendapat panggilan
psikotest dan interview dari beberapa perusahaan dan hasilnya gagal, aku mencoba
melamar ke salah satu bank swasta terbesar di Indonesia yang ketika itu
membuka lowongan Management Trainee. Tak lama kemudian, aku mendapat
panggilan tes dari bank tersebut. Tahap demi tahapan tes kujalani dan aku lulus
hingga tahap terakhir.
Akhirnya aku dapat pekerjaan juga...setahun menjalani masa trainee (pendidikan) merupakan masa-masa
yang indah. Dan tebak apa yang terjadi?...Hari pertama aku menjalani trainee, aku bertemu kembali dengan
calon suamiku yang terakhir kutemui di bis sewaktu kuliah dulu. Selanjutnya hari-hari trainee bersama dengan teman-teman yang
baru sungguh menyenangkan, meskipun harus belajar dalam kelas, juga OJT di
cabang serta ada ujian yang menanti setiap 3 bulan untuk menentukan kelayakan
kami bisa diangkat menjadi karyawan tetap. Walaupun demikian, selalu saja ada
waktu yang bisa dihabiskan untuk bercanda dan tertawa bersama teman-temanku.
Setahun berlalu begitu cepat, saat ujian penentuan pun tiba,
deg-degan rasanya menghadapi penguji seperti sidang skripsi yang pernah
kujalani satu setengah tahun sebelumnya. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan
oleh ketiga orang pengujiku dan berhasil kujawab dengan lancar, satu jam pun
berlalu dan ujian selesai, aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.
Beberapa hari kemudian tiba waktunya pengumuman penempatan kami sebagai
karyawan tetap. Meski telah menandatangani kontrak kerja yang menyatakan
bersedia ditempatkan dimana saja, tetap saja keinginanku dan teman-teman adalah
ditempatkan di Jakarta. Ternyata 2 orang dari angkatan kami ditempatkan di
Medan, salah satunya adalah calon suamiku, sementara yang lainnya ditempatkan
di Jakarta.
Pekerjaanku di bagian SDM Kantor Pusat sungguh tak ada
kaitannya dengan latar belakang studiku, tapi aku jalani saja. Awalnya aku agak
bosan karena pekerjaanku lebih banyak bersifat administratif, mengerjakan memo
dan mengurus dokumen kepegawaian. Namun pada akhirnya, aku banyak belajar
tentang bagaimana caranya berkomunikasi yang baik dengan orang lain, juga
kemampuanku menyusun memo secara sistematis, ketelitian dan perhatianku
terhadap detail juga terasah. Satu hal yang jauh lebih penting adalah
teman-temanku yang membawaku lebih dekat dalam pengenalanku akan Tuhan.
Persiapanku dalam menghadapi satu peristiwa yang tak pernah kubayangkan akan terjadi
dalam hidupku.
Singkat cerita, akhirnya pada November 2009, aku menikah dan
beberapa bulan kemudian pada bulan Mei 2010, aku terdiagnosa menderita Multiple
Sclerosis. Terkejut, lega, bingung, takut, tak tahu harus bagaimana, itulah
yang aku dan suamiku rasakan. Lega...karena akhirnya penyakit yang telah bersarang
di tubuhku selama lebih dari 2 tahun diketahui juga. Takut...karena mengetahui
penyakit ini belum ada obatnya. Hanya ada obat yang bisa meredakan gejalanya
sewaktu serangan terjadi (cortico steroid) dan obat untuk mencegah
kekambuhan (mis. Rebif). Puji Tuhan, sewaktu pertama kali diobati, pemulihan
terjadi pada sebagian gejala yang kualami, rasa letih (fatigue) yang kurasakan hilang, juga penglihatan mata kiriku yang
tertutup sebagian menjadi jelas kembali. Hanya kesemutan, fogging, juga kendali atas buang air kecil dan buang air besar yang
belum pulih. Delapan bulan menggunakan Rebif tidak jua membawa perbaikan lebih lanjut.
Bekas suntikan di beberapa bagian tubuhku mulai terasa nyeri bila tersentuh.
Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menggunakan Rebif, namun 4 bulan kemudian
tubuhku kembali dirayapi kesemutan pada bagian punggung yang tadinya sempat
menghilang, juga rasa letih kembali melanda tubuhku.
Mei 2011, aku kembali dirawat di rumah sakit Siloam Karawaci
tempat aku didiagnosa pertama kali. Rasanya tak percaya harus menjalani lagi pengobatan
yang sama yang pernah aku jalani dulu, karena dirawat di rumah sakit bukanlah
pengalaman yang menyenangkan. Tapi tak ada peristiwa yang terjadi karena kebetulan,
aku percaya Tuhan ijinkan aku mengalami serangan saat itu karena aku harus
bertemu dengan teman sekamarku yang ternyata baru terdiagnosa menderita MS
setelah 9 tahun pencarian penyakitnya. Mungkin Tuhan ingin aku berbagi
pengalaman dan pengetahuanku dengannya sekaligus memberikan semangat padanya.
Seranganku kali ini juga membuatku bersemangat untuk mencari
tahu tentang pengobatan alternatif maupun diet yang dapat membantu
mencegah kekambuhan MS. Saat berdiskusi dengan dokter syarafku, terlintas
satu kata yaitu inflamasi yang terjadi pada syaraf kita ketika serangan
MS terjadi. Mulailah pencarianku di internet tentang makanan maupun suplemen
anti-inflamasi yang membawaku kepada 2 buah website yang menurutku sangat bagus
dalam menerangkan gaya hidup sehat yang perlu diterapkan oleh seorang penderita
MS.
GAYA HIDUP SEHAT
Kedua penulis website tersebut berhasil memformulasikan gaya
hidup sehat yang dapat menghambat bahkan menghentikan progresifitas MS, berikut
rangkumannya (untuk informasi selengkapnya dapat di-klik disini dan disini).
1. DIET SEHAT
Sebaiknya lebih banyak mengkonsumsi makanan segar yang
dimasak sendiri, bukan makanan yang sudah jadi (processed food) yang banyak mengandung bahan pengawet, zat pewarna
dan bahan kimia lainnya ataupun makanan siap saji (fast food) yang banyak mengandung lemak yang tidak baik. Lebih
banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan segar, daging putih (seperti daging
ayam dan ikan) serta sedapat mungkin menghindari tepung terigu, lemak hewani,
produk yang terbuat dari susu dan gula pasir.
2. SUPLEMEN
Nutrisi yang
seimbang dapat diperoleh dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari, tetapi
ada suplemen tambahan yang perlu dikonsumsi untuk menunjang perbaikan sel-sel
syaraf seperti:
- Omega 3 (Essential
Fatty Acids). EFAs dibutuhkan karena tubuh kita membuat myelin dari zat
tersebut. Omega 3 terbaik dapat diperoleh dari minyak ikan.
- Vitamin D (dalam
bentuk colecalciferol atau D3).
Vitamin D adalah regulator alami dari sistem imun kita dan dapat diperoleh juga
dari sinar matahari yang melimpah di negara kita.
3. KURANGI STRES
Cara mengurangi
stres dapat dilakukan dengan melakukan meditasi selama 30 menit setiap hari.
Mengurangi stres bukan berarti tidak terlibat dalam aktivitas sehari-hari yang
biasa kita jalani, tapi kita perlu tetap merasa gembira dalam segala aktivitas
yang kita lakukan. Seperti ada tertulis “hati
yang gembira adalah obat yang manjur”.
4. HINDARI TERLALU LELAH
Bagi sebagian orang
mungkin berarti perubahan dalam pekerjaan, mengurangi jam kerja atau mengambil
ijin/cuti.
5. MINUM BANYAK AIR PUTIH
Minumlah 6-8 gelas
air putih setiap hari minimal 1,5-2 L. Karena kebanyakan penderita MS mengalami
masalah sering buang air kecil, maka konsumsi air dikurangi sehingga mereka
menjadi dehidrasi. Dengan meningkatkan konsumsi air putih, setelah beberapa
hari, sejalan dengan tubuh menjadi cukup terhidrasi dapat dirasakan masalah
sering buang air kecil berkurang pada kebanyakan orang.
6. OLAHRAGA PERNAFASAN
Lakukan olah nafas
perut, dengan menarik nafas dalam-dalam sambil mengembangkan perut dan
menghembuskan nafas perlahan-lahan sambil mengempiskan perut, selama beberapa menit
pagi dan sore/malam hari.
7. BERJEMUR SETIAP PAGI
Ambil waktu 30 menit
setiap pagi untuk berjemur di bawah sinar matahari yang sangat baik karena
mengandung vitamin D untuk membantu mengatur sistem imun kita. Meski hari berawan,
tapi kulit tetap dapat mengubah sinar ultraviolet dalam sinar matahari menjadi
vitamin D dalam tubuh kita.
8. OLAHRAGA SETIAP HARI
Lakukan olahraga setidaknya 30 menit setiap
hari, olahraga ringan seperti peregangan (strecthing),
berjalan kaki, berenang, bersepeda, yoga, tai chi/chi kung, dll. Yang penting
hindari olahraga yang berat yang dapat menyebabkan tubuh menjadi
kepanasan/berkeringat, karena dapat melemahkan penderita MS (terutama bagi pada
penderita MS yang sensitif terhadap suhu panas karena bisa menyebabkan serangan
/ peningkatan intensitas pada gejala yang dialami). Olahraga penting dilakukan
untuk melatih otot agar tetap kuat dan dapat mengurangi kekakuan serta rasa
nyeri yang dialami.





No comments:
Post a Comment
Kepada para pembaca diharapkan tidak sungkan dalam membagikan pengalaman, masukan maupun kritik dan saran. Terima kasih.